Archive for April, 2007

Ngidam

Tuesday, April 24th, 2007

Ricky: kamu ngidam kue apa?

E: Nggak ngidam, gak doyan makan iya

E: Emang kue apa ki?

Ricky: ndak tau In.. (maksudnya: nggak tau, Indah mau bikin kue apa)

Hehe, iya, gimana mau ngidam… Gak ada gunanya. Pingin makan kue, harus beli sendiri. Pingin makan sesuatu, harus pergi cari sendiri. Lha wong suami gak di Bandung. Tapi kalau suamiku ke Bandung, enaknya ngidam apa ya? Ada usulan? ;))

Sekarang harus berjuang untuk doyan makan nih. Selain nafsu makan berkurang, nafsu minum pun menghilang. Bau air putih itu terasa begitu menyebalkan. Jadinya, males minum, males ke kamar mandi. Tapi aku tetep mandi dua kali sehari kok, hehe, karena efek tidak mandi itu lebih menyebalkan daripada bau air. Tapi alhamdulillah gak anti bau air hujan. Maklum, Bandung kan lagi sering hujan.

Demi menjaga kebahagiaan anak di rahim, kemarin aku mampir ke dokter gigi, rencana yang sudah ditunda selama kurang lebih 2 tahun. Uang 50 ribu melayang dan dokternya cuma bilang, "Giginya sehat, tidak ada lubang." Sayangnya, gak bisa ditebus pake asuransi.

Berita Gembira

Tuesday, April 17th, 2007


05.47

WIB

A: "Halo, assalamu’alaikum"
E: "Wa’alaikum salam"

E: "Mas, positif, Mas"
A: "Oh ya? Alhamdulillah…"

Hehehe, jadi buat teman-teman yang hampir tiap hari nanya, jawabannya, positif. :D

Sekitar seminggu sebelumnya

E: Aduh, kayaknya cacingan deh. Sembelit nih…
Fajar: Masak kamu cacingan? Gak mungkin… Sembelit kan penyakitnya ibu hamil.  Coba dites.

Fina: Mau ikutan gak? Mau ke Hermina.
E: Kayaknya enggak dulu… Mau coba ngetes sendiri dulu.

Sabtu

Fajar: Gimana?
E: Belum beli testpack nih. Ntar rencananya mau ke BIP sekalian mampir apotek.

Tapi Sabtu itu lagi bener-bener kepayahan. Bandung hujan sepanjang siang. Masuk angin dan gak enak badan sepanjang hari, belum jadi ke mana-mana.
Minggu akhirnya beli, tapi lupa ngetes Senin paginya.

Hari ini

Ricky: Jangan kecapekan
Ricky: PAKSA makan yang banyak (dan bergizi) 
Ricky: Jangan naik tangga ==> nanti kecapekan
Ricky: Jangan suka marah-marah ==> nanti anakmu susah diatur

Wah, gak boleh naik tangga? Ke kamar mandinya gimana dong?
Wah, gak boleh marah ya? :( Padahal terakhir jadi suka BT. Apalagi tiap pagi ama sore demam dan gak enak badan, bawaannya pingin marah terus.

Indah: Jaga kesehatan. Hati-hati, triwulan pertama rawan keguguran

Enik: enik nge-cup jadi baby sitter
Enik: cihuy..
Enik: nanti namanya enik ato dibon ya

Shinta: Huwee. Dah mo ibu2

Terima kasih buat temen2 yang udah ngucapin selamat, ngasih nasihat, dan ikut berbahagia. Doain normal dan sehat selalu ya…

Kalau ada kata-kata yang nggak sama persis, mohon dimaafkan dan harap dimaklumi.

Angin Duduk

Sunday, April 15th, 2007

     Akhir-akhir ini aku suka ndengerin Ensiklopedi by Request di MQ FM. Sebenarnya dipicu oleh keinginan untuk memanfaatkan fitur HP dan nyobain headsetnya. Karena isinya menarik, lama-lama aku jadi ketagihan.

     Minggu lalu salah satu topik yang menarik adalah tentang angin duduk. Selama ini aku sering mendengar istilah angin duduk tapi tidak pernah tau apa angin duduk itu sebenarnya. Biar nggak lupa, aku tulis saja di sini. Tadi setelah nanya ke Mbah Google dan sedikit jalan-jalan di Internet, ternyata artikel yang dibacakan di Ensiklopedi by Request asalnya dari artikel  Angin Duduk Jangan Dipijat di Intisari. Yang kutulis di sini rangkumannya saja, biar aku gak lupa.

 

Apakah angin duduk itu?

  • Rasa masuk angin yang disertai keringat berbutir-butir besar atau rasa masuk angin yang disertai nyeri, rasa tertekan atau rasa berat di dada.
  • Merupakan gejala awal serangan jantung berat.
  • Istilah medisnya: flu-like-syndrom.

Bagaimana cara menanganinya?

  • Jangan dipijat atau dikerok! Bisa menyebabkan kematian!
  •  Bawa penderita segera ke rumah sakit, paling baik dalam keadaan berbaring karena yang diperlukan penderita adalah pemberian oksigen dan obat khusus (obat apa ya? obat khusus sakit jantung kali ya…)

 
     Menyeramkan ya… Semoga kita sehat-sehat aja lah. Tapi sakit itu merupakan penggugur dosa sih (berdasarkan HR Thabrani, hasil searching barusan, CMIIW). Sampai ada salah seorang teman yang pernah bilang ke aku kalau dia pingin sakit biar dosanya rontok. Menurutku kita sebaiknya jangan berharap sakit. Malahan, semoga kita tidak pernah sakit, tapi dosa kita tetap rontok dan diampuni Allah SWT. Amien.

Kapal Udara

Wednesday, April 11th, 2007

Ini adalah salah satu lagu favoritku dan merupakan lagu yang aku tidak pernah lupa liriknya. Nggak tau, apa liriknya aslinya memang begini, atau versi di keluargaku aja.

Jreng jring kapal udara
Numpak sepur mudhun Jakarta
Jakarta akeh lamuke
Surabaya akeh dhuwite
Dhuwite satus selawe
Ditukokno onde-onde
Onde-onde isine kacang
Lambe ndomble kakehan mangan

yang artinya:

Jreng jring pesawat udara
Naik kereta api turun Jakarta
Jakarta banyak nyamuknya
Surabaya banyak uangnya
Uangnya seratus dua puluh lima
Buat beli onde-onde
Onde-onde isinya kacang
Mulut monyong terlalu banyak makan

Biasanya sih baris paling akhir diubah buat mengejek orang. Misalnya jadi ‘Kowe ndomble kakehan mangan’  (Kamu monyong terlalu banyak makan). Atau ejekan-ejekan lain yang penting berima. Tapi karena ejek-mengejek itu tidak baik dan bahkan larangannya ada di Al Qur’an, jadi jangan dipakai buat ejek-mengejek ya.

Liburan Bersama Film-Film

Sunday, April 8th, 2007

     Liburan ini aku banyak nonton film. Mulai dari nonton bioskop (cuman satu film kok), nonton film di kompu, ampe nonton film-film di TV (yang di kompu juga karena punyanya tv tunner).

     Waktu hari Jumat siang aku nonton film Naga Bonar Jadi Dua. Nontonnya bareng ama Enik di Ciwalk, waktu hujan-hujan dan mobil yang diparkir di sebelah, kaca depannya (bagian sopir) tidak ditutup/bolong (dan aku masih penasaran kenapa dan bagaimananya). Kami nonton di Ciwalk karena ingin mencari tempat yang cukup sepi dan gak ngantri sih. Memang yang nonton dikit di situ, tapi ternyata sedikitnya penonton bukan berarti kenyamanan menonton. Enik cemberut sepanjang film dan ternyata karena terganggu oleh kecerewetan dan suara ketawa om yang di sebelahnya (Ikut berduka Nik…). Tapi ada yang lebih mengganggu lagi. Ada seorang wanita yang menerima telepon dan berbicara keras-keras. Ternyata adab sesama penonton menentukan kenyamanan dan ketenteraman nonton.

     Filmnya sih buagus buanget. Nontonnya seperti kalau kita baca buku Laskar Pelangi. Mengharukan campur lucu! Antara haru dan lucunya berganti dengan cepat dan tepat. Yah ada kurangnya dikit-dikit seperti gerakan Bonaga di jendela (waktu adegan ’sehati dengan bapaknya’) yang masih terlihat kaku dan dibuat-buat. Filmnya juga tercemari oleh ciuman si Monita (Mbak, Bonaga belum jadi suamimu tau, udah main sosor pipi aja). Tapi secara garis besar, termasuk salah satu film Indonesia yang top dan layak dibeli CD/DVD-nya.

     Malemnya aku nonton film Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest di kompu. Dari dulu belum sempat nonton. Tapi menurutku filmnya tidak sebagus Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl. Ditambah lagi ada gangguan eksternal yang mengganggu kenyamanan menonton. Aku masih perlu belajar bersabar.

     Hari Sabtu berlalu tanpa film yang cukup berkesan. Tapi Minggu ini konflik di Commander in Chief-nya tambah seru aja, meskipun bukan episode terbaik (menurutku sih). Jadi wanita karir memang berat. Apalagi jadi presiden. Tapi yang jelas, keluarga adalah elemen terpenting dari kesuksesan orang yang berkarir. Hari libur berlalu dengan cepat. Semoga banyak hikmah yang bisa menjadi inspirasi untuk hari-hari berikutnya.

Jangan Beri Webcam pada Anak-Anak

Saturday, April 7th, 2007

     Oprah hari ini tentang parenting semua. Yang satu tentang pornografi anak, yang satu lagi tentang tidak boleh memanjakan anak.

Pornografi anak di Internet

     Bintang tamunya adalah anak lelaki bintang pornografi di Internet. Menyeramkan sekali! Dimulai dengan dapet webcam pada usia 13 tahun (tadi kurang jelas sih, webcamnya dikasih siapa), si bintang tamu ini  berkenalan dengan orang-orang yang dikiranya teman seumuran. Menyapa baik-baik, mengajak ngobrol, memuji bahwa dia anak yang tampan, berlanjut dengan menawarkan $50 jika dia mau membuka kaosnya. Awal yang sederhana dan berlanjut dengan diminta bugil hanya dalam waktu beberapa minggu. Betul-betul mengerikan!

     Si bintang tamu yang awalnya siswa teladan dan seorang ketua kelas ini berubah menjadi malas pergi ke sekolah, selalu punya alasan untuk menyendiri di dalam kamar. O ya, bugil itu ternyata masih bukan apa-apa! Diceritain nggak ya? :( Ngingetnya aja udah males. Nulisnya apalagi… :P Ya selain disuruh berbuat tidak senonoh di depan webcam, si siswa teladan ini kemudian diminta kopi darat di Las Vegas dan di-apa-apa-in oleh seorang business-man. Bahkan dibelikan tempat tinggal agar bisa setiap saat dipanggil. Sampai akhirnya situs web yang dikelola si bintang tamu ini ketahuan oleh temannya dan dia menjadi bahan olok-olok di sekolah.

     Yang mengerikan pertama adalah ibunya tidak mengetahuinya sama sekali meskipun dia memiliki profesi yang berkaitan dengan perlindungan anak. Setiap kiriman barang hasil kerja haramnya datang, dia bilang itu hasil usaha pembuatan webnya. Ketika pergi ke Las Vegas, si bintang tamu memakai alasan ‘dia dan teman-temannya akan menghadiri konferensi tentang Internet di Nevada’. Karena memang si bintang tamu ini jagoan komputer, ibunya percaya saja. Udah kenal komputer dari umur 4 tahun, gitu…

     Yang jauh lebih mengerikan lagi adalah ketika ayah biologisnya mengetahui apa yang terjadi pada anaknya, si ayah mengajak mengamankan diri ke Mexico dan malah menanyakan, apa yang bisa dia bantu untuk membantu kelancaran bisnis si anak. Ayah yang tidak bertanggung jawab, mengeksploitasi anak, dan benar-benar tidak pantas disebut ayah! Dia malah membantu membawa aktris pornografi untuk menambah ketenaran anaknya. Dilanjutkan dengan si bintang tamu menjadi pencandu narkoba.

     Untungnya berakhir cukup bagus. Si bintang tamu diselamatkan oleh wartawan New York Times yang secara tidak sengaja menemukan situs webnya. Akhirnya dia lepas dari bisnis kotor itu, melaporkannya ke FBI, walau FBI tidak cukup cepat bergerak, baru 2 minggu kemudian. FBI aja 2 minggu, kalau Polri gimana ya? Semoga lebih cepat lah dan tidak korup. Jaringannya sedang dibongkar dengan mendata pelanggan si bintang tamu berdasarkan info dari perusahaan kartu kredit yang dia pakai. Kenyataan yang mengejutkan berikutnya adalah para pelaku pedofili itu ternyata sebagian besar adalah orang-orang yang sering berhubungan dengan anak kecil seperti guru, pengacara anak, bahkan orang yang bekerja di perlindungan anak.

     Oh ya, jangankan anak kecil. Aku aja yang akhir-akhir ini sering memakai webcam, jadi sering mendapat pesan aneh dari orang-orang asing. Padahal webcamku juga tidak untuk umum dan untuk melihatnya harus dengan izinku. Bugnya yahoo kah? Atau ada orang yahoo yang juga termasuk bagian dari jaringan pornografi? Padahal aku pakai jilbab gitu…. Super duper mengerikan!

Berani berkata tidak kepada anak

     Oprah yang jam tujuh malam tadi membahas tentang efek terlalu memanjakan anak. Biasanya, orang tua yang sibuk berkarir dan jarang di rumah cenderung untuk memanjakan anak-anaknya dengan memberikan barang-barang mewah. Banyak juga orang tua yang tidak mampu menolak rayuan anaknya.

     Ada beberapa akibat dari memanjakan anak, yaitu:
1. Anak jadi berani atau tidak hormat kepada orang tua, bahkan ada yang jadi agresif, bahkan memaki  atau memukul orang tuanya. Anak durhaka tepatnya.
2. Anak jadi tidak tahu apa artinya bangga atas usahanya sendiri.
3. Anak jadi tidak memiliki harga diri dan kemudian menjadi peminta-minta terus sepanjang hidupnya.

     Jadi, setidaknya ajarkan kepada anak agar dia bekerja keras terlebih dahulu, baru kemudian berikan yang dia minta. Tapi jangan lalu anak yang minta uang SPP nggak diberi ya, gara-gara nilainya di raport jelek. Bagi yang punya pembantu, jangan perbolehkan pembantu yang menata tempat tidur anak. Ajarkan agar anak kita mampu membereskan mainannya sendiri, menata tempat tidurnya sendiri, gosok gigi sendiri, mandi sendiri, dan akhirnya mampu merawat orang tuanya ketika udah ompong, pikun, dan ngompolan.

     Hmm, memang susah ya jadi orang tua. Semoga kita semua bisa jadi orang tua yang baik dan mampu melindungi keluarga kita dari kekejaman dunia. Amiiiiieeeeeeen (adegan ini jangan ditirukan ketika sholat berjama’ah).

Perkalian

Thursday, April 5th, 2007

Aku punya
kebiasaan ngasih beberapa soal perkalian ke diriku sendiri kalo kepalaku abis kebentur.
Untuk memastikan kalau aku gak amnesia aja sih. Tapi anehnya, beberapa hari
yang lalu waktu sikuku terbentur kusen pintu, kok aku juga langsung nginget-nginget
perkalian ya. Apa otakku dah pindah di siku ya….. Hmmm… :D agak mending lah
daripada di dengkul. Saking seringnya
kebentur kepala sih, jadi latah perkalian deh! Itu juga kali ya, yang menyebabkan otakku diamankan ke siku.

 

Waktu aku kelas 1 SD, aku pernah bilang
ke ibuku kalau gak mau ngelanjutin sekolah setelah kelas 2 SD. Alasannya karena
aku gak mau susah-susah ngapalin perkalian. Hasil dari ngeliat mbakku sih, yang
kayaknya kasian banget waktu ngapalin perkalian. Sampe harus dibedheki (baca: dikasih tebakan)
perkalian tiap hari oleh ibuku dan ke mana-mana sambil komat-kamit ngapalin
perkalian. Tapi ternyata bisa juga aku lulus sarjana, heuheuheu.

 

Ternyata apa yang terjadi waktu aku kelas 3 SD? Aku jadi latah perkalian, hehe. Dan ibuku
sering ngegangguin dengan mbedheki
terus2an, padahal aku paling gak suka dibedheki.
Lucu ngingetnya. Ya setidaknya, skarang perkalian bisa jadi ‘alat uji tidak
amnesia’.

Budaya vs Agama

Tuesday, April 3rd, 2007

Waktu Maulid Nabi hari minggu kemarin aku nonton film dokumenter tentang sejarah Islam di Pulau Jawa di Metro. Jujur aja, dibuat dengan sangat membosankan, khas film dokumenter. Tapi karena lagi semangat nonton, aku tonton aja sih, sampai habis. Tumben juga nggak terlalu pindah-pindah channel kayak biasanya. Ceritanya ya gitu-gitu aja sih, mulai dari zaman Walisanga.

 

Kenapa aku begitu semangat nonton?

1. Karena melihat nara sumbernya yang udah mbah-mbah, aku jadi semangat nonton,mencari  kira-kira berikutnya bakal ada yang muda nggak. Kan kalau liat film dokumenter tentang sejarah Eropa biasanya nara sumbernya orang muda-muda. Atau kalau liat talkshow tentang teknologi di Indonesia juga pembicaranya muda-muda.

Hasilnya:
Tidak ditemukan sejarahwan muda sepanjang film itu.

Sejarahwan muda… di mana kalian? Acungkan jari dong, kalau ada…

 

2. Di awal acara, naratornya bilang kalau Islam diterima di Indonesia karena disebarkan dengan damai, tanpa ada pemaksaan, dan menggunakan budaya setempat sebagai media penyebaran. Udah tau sih sebenarnya. Tapi tiba-tiba jadi kepikiran; menurutku, pada zaman sekarang generasi muda Islam cenderung meninggalkan budaya setempat. Jadi aku ingin tau bagaimana Sunan-Sunan menyebarkannya dengan cara yang tidak melanggar fiqih.

Hasilnya:
Mereka melakukan pendekatan secara bertahap dengan melihat apa problem masyarakat waktu itu. Disebarkan dengan cara sederhana, yaitu menerapkan 5 larangan untuk menyembuhkan penyakit masyarakat, yaitu:

  1. dilarang mencuri
  2. dilarang berzina
  3. dilarang mabuk
  4. dilarang berjudi
  5. dilarang … (lupa euy yang satu lagi, kalau udah inget ntar kuisi deh)

Intinya adalah selesaikan problem masyarakat dulu, baru kemudian masuk ke masalah akidah. Malahan, Sunan Bonang menciptakan alat musik ‘Bonang’ untuk mengiringi pertunjukan wayang. Jadi Sunan-Sunan turut mengembangkan budaya Jawa.

Primbon Jawa

Di luar film itu, aku jadi ingat isi Primbon Jawa di rumah. Pada pernah baca primbon belum? Bukan www.primbon.com lho! tapi buku primbon. Kalau www.primbon.com sih menurutku mudharat-nya lebih banyak daripada baiknya. Kalau primbon di rumahku sih, sebagian ternyata isinya doa-doa Islam yang ditulis dalam tulisan Jawa (baik dalam Aksara Jawa maupun Huruf Latin dengan Ejaan Jawa). Doa sehari-hari, mulai doa makan, minum, tidur, masuk kamar mandi. Terus sebagian lagi tentang tanda-tanda alam. Ada juga sih tentang itungan atau pertanda-pertanda yang tidak logis seperti yang ada di www.primbon.com. Tapi menurutku itu mungkin statistik saja atau mungkin karena pengetahuan penulis pada waktu itu yang masih terbatas, seperti Gerhana Bulan yang dikira buyut kita Bathara Kala lagi makan bulan.

 

Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan terhadap primbon ini?

Kalau menurutku sih, primbon sebaiknya diperbarui:

disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan;
ditambah halaman doanya;
diminimalisir hal-hal yang tidak logis-nya
atau diberi keterangan bagian mana yang merupakan kepercayaan lama dan apa penggantinya.

Satu lagi: dibuat versi online-nya yang lebih baik daripada www.primbon.com.

Fotografer vs Tukang Foto

Sunday, April 1st, 2007

Kalau ada orang lagi moto-moto di jalan, kayaknya pada mikir gini:

  1. kalo kameranya kamera saku: "Wah, ada turis…"
  2. kalo kameranya kamera pro: "Wah, ada wartawan!"
  3. kalo pake kamera hp: "Nyobain HP baru ya?!"
  4. kalau objek fotonya orang tak dikenal: "Orang ini ngecengin gua apa? Mo nomor HP ama alamat rumah  sekalian?"
  5. kalau moto mall plus pos-pos satpamnya: "Wah, kayaknya ada teroris lagi memetakan situasi!!"

Bener gak??

Apa ya bedanya fotografer ama tukang foto? Ada temen yang gak suka kalau dibilang tukang foto. Bukannya itu sama dengan fotografer ya? Atau Bahasa Indonesia-nya itu yang bikin suatu kata jadi bermakna jelek? Atau gini ya:

  • Jadi tukang foto (baca: fotografer) di luar negeri itu termasuk salah satu profesi yang bagus, disegani, banyak duit, banyak jalan2 juga. Jadi ndenger kata fotografer itu kebayangnya udah yang bagus-bagus.
  • Kalau di Indonesia, tukang foto itu termasuk profesi yang gak elit; temennya tukang sapu, tukang becak, tukang bangunan alias kuli, termasuk temennya kuli tinta juga. Biasanya tampang kucel, baju asal-asalan, tempat tinggalnya kios kaki lima dengan tulisan "afdruk kilat". Selalu pake kacamata item juga, biar serasa di ruang gelap terus.

Yang jelas, tukang foto di acara-acara penting itu cenderung ‘tidak diliat’ ama orang; bahkan sering dianggep gak ada. Kalau dianggap ada, emang ngganggu banget sih. Di acara pembukaan yang sunyi senyap, tiba-tiba ada suara "cepret". Trus dengan tidak sopan, jalan di depan podium trus tiba-tiba nglesot di bawah. "Cepret" lagi. Ndengernya aja gak enak, liatnya juga gak enak. Apalagi liat blitz-nya yang menyilaukan.

Tapi gak jelek-jelek amat jadi tukang foto. Coba kalau gak ada tukang foto, kita gak bisa liat foto Pak Karno lagi baca teks proklamasi. Pak Karno ama Pak Hatta lagi hormat ke Bendera Merah Putih tanggal 17 Agustus 1945. Kita gak tau wajah bakteri itu kayak gimana (di buku biologi) karena gak punya mikroskop (ups, kok gak nyambung ya).

Jadi gak usah malu jadi tukang foto. Kapan lagi bisa mantati orang banyak tanpa digugat? Heuheuheu.