Fotografer vs Tukang Foto
Kalau ada orang lagi moto-moto di jalan, kayaknya pada mikir gini:
- kalo kameranya kamera saku: "Wah, ada turis…"
- kalo kameranya kamera pro: "Wah, ada wartawan!"
- kalo pake kamera hp: "Nyobain HP baru ya?!"
- kalau objek fotonya orang tak dikenal: "Orang ini ngecengin gua apa? Mo nomor HP ama alamat rumah sekalian?"
- kalau moto mall plus pos-pos satpamnya: "Wah, kayaknya ada teroris lagi memetakan situasi!!"
Bener gak??
Apa ya bedanya fotografer ama tukang foto? Ada temen yang gak suka kalau dibilang tukang foto. Bukannya itu sama dengan fotografer ya? Atau Bahasa Indonesia-nya itu yang bikin suatu kata jadi bermakna jelek? Atau gini ya:
- Jadi tukang foto (baca: fotografer) di luar negeri itu termasuk salah satu profesi yang bagus, disegani, banyak duit, banyak jalan2 juga. Jadi ndenger kata fotografer itu kebayangnya udah yang bagus-bagus.
- Kalau di Indonesia, tukang foto itu termasuk profesi yang gak elit; temennya tukang sapu, tukang becak, tukang bangunan alias kuli, termasuk temennya kuli tinta juga. Biasanya tampang kucel, baju asal-asalan, tempat tinggalnya kios kaki lima dengan tulisan "afdruk kilat". Selalu pake kacamata item juga, biar serasa di ruang gelap terus.
Yang jelas, tukang foto di acara-acara penting itu cenderung ‘tidak diliat’ ama orang; bahkan sering dianggep gak ada. Kalau dianggap ada, emang ngganggu banget sih. Di acara pembukaan yang sunyi senyap, tiba-tiba ada suara "cepret". Trus dengan tidak sopan, jalan di depan podium trus tiba-tiba nglesot di bawah. "Cepret" lagi. Ndengernya aja gak enak, liatnya juga gak enak. Apalagi liat blitz-nya yang menyilaukan.
Tapi gak jelek-jelek amat jadi tukang foto. Coba kalau gak ada tukang foto, kita gak bisa liat foto Pak Karno lagi baca teks proklamasi. Pak Karno ama Pak Hatta lagi hormat ke Bendera Merah Putih tanggal 17 Agustus 1945. Kita gak tau wajah bakteri itu kayak gimana (di buku biologi) karena gak punya mikroskop (ups, kok gak nyambung ya).
Jadi gak usah malu jadi tukang foto. Kapan lagi bisa mantati orang banyak tanpa digugat? Heuheuheu.
April 1st, 2007 at 8:01 pm
waktu kecil aku pernah cita2 jadi fotografer dan wartawan karena ada kerabat yg jadi fotografer peragawati dan iklan, fotonya keren2
April 2nd, 2007 at 4:39 am
@ Anjak: Wah, siapa mas? Mau dong dikenalin…
April 2nd, 2007 at 4:55 am
sudah berhenti, rin, soalnya fotonya ternyata gak laku

biarpun menurutku fotonya bagus, ternyata redaksi majalah berpendapat lain
April 12th, 2007 at 4:03 am
Aku hidup dari jasanya tukang poto lho..;)
April 12th, 2007 at 5:03 am
@Weni: bisa juga dikau besar ;))
April 17th, 2007 at 1:55 am
mangsute??
November 9th, 2008 at 2:58 pm
You write very well.
December 27th, 2008 at 5:28 am
munson williams proctor institute school of art
Nice Site.