Pindah Pindah….
Sunday, August 5th, 2007 Setengah tahun terakhir ini aku pindahan terus-terusan. Hampir tiap bulan pindah. Jadi tambah pengalaman bertemu dengan banyak macam tetangga, mulai dari yang paling baik, yang biasa (ini yang paling umum), dan yang paling jahat.
Lumayan… jadi introspeksi, biar nggak jadi tetangga yang jahat. Tapi memang yang paling buruk adalah tetangga yang baik di depan kita tapi jahat di belakang. Semoga kita nggak pernah jadi orang yang seperti itu.
Kalau sebelumnya masih dalam satu kota, akhirnya sekarang pindah negara, ke Singapura. Karena sering pindah, sebagian besar barang sudah kukirim pulang ke rumah ortu. Tapi, masih banyak juga. Untung ada ibuku juga yang membantu menyortir barang. Walau udah disortir, ternyata masih terlalu banyak untuk masuk bagasi pesawat. Yang tertulis di tiket sih jatahnya 20 kg per orang. Karena perginya berdua dengan suami, jadi 40 kg. Tapi barang yang harus dibagasikan ternyata 51 kg.
Untungnya gak disuruh bayar lagi. Mungkin kliatan kalo aku kurus, jadi bisa diambil dari jatah berat badan.
Tiket pesawat sudah dipesan sejak beberapa minggu sebelum berangkat. Sebenarnya kalau saja Garuda nggak rese’ dalam hal tiket pesawat antarnegara, maunya naik Garuda, biar nambah point GFF-ku. Tapi ternyata rese’nya bikin kapok! Bayarnya harus dateng ke kantornya langsung padahal pesen via Garuda Call Center. Alasannya, urusan pajaknya yang bikin ribet. Hmmm, ya mbok diurus dengan baik sana, masak urusan dapur dibawa ke depan pelanggan. Udah gitu, gak dijelasin dari awal. Jadi waktu mau bayar kok gagal terus… setelah ditanyakan lagi, baru ketahuan penyebabnya. Biaya telpon membengkak deh, buat nelpon lebih dari 5x ke GCC. Kapok dah!
Akhirnya aku memilih naik Emirates. Sebenernya pinginnya naik SIA, tapi nggak tega ama suami. Ya, itungan ekonomisku sih, daripada buat naik SIA, bisa jadi filter lensa beberapa biji deh. Klak klik sebentar di Internet, dapet deh tiket. Harganya juga lebih murah daripada Garuda. Kapan ya, maskapai Indonesia bisa seperti itu.
Dengan tiga koper besar barang domestik, satu kardus berisi rice cooker kecil, dua tas jinjing berisi dokumen, satu backpack buat laptop dan kamera, dan satu camera handbag yang nggak berisi kamera; proses pindah pun dimulai. Benda-benda cair sudah diamankan di koper-koper. Surat izin terbang dari dokter sudah kupersiapkan juga. Alhamdulillah, tidak ada masalah yang berarti.
Ketika check in, aku melihat ke counter Emirates sebelah. Ada wanita yang sepertinya TKI sedang ditanya macam-macam oleh petugas check in-nya. Terlihat kasihan. Kenapa ya, mereka seperti dipersulit, padahal nasibnya juga udah sulit. Aku jadi bersyukur, kami bukan blue collar worker.
Ini adalah pengalaman pertama naik 747 buatku, walau nggak sampai 2 jam. Lumayan juga fasilitasnya. Kamera di moncong ama bawah pesawatnya keren, walau cuma kliatan lampu-lampu karena perjalanannya malem. Ada channel Al Qur’annya juga. Cuma makannya aja yang keburu-buru, karena pesawat udah mau mendarat. Yang jelas, jauh dari mengecewakan! Yang lebih asyik lagi, sampai di Singapura kami masuknya lewat Terminal 2 dan nggak ada pemeriksaan macam-macam. Kata suamiku, beda banget dengan waktu beliau keluar lewat budget terminal. Ribet!
Setelah sampai di negeri orang, jadi banyak mensyukuri negeri sendiri. Merindukan wanginya beras Indonesia, tempe mendoan pasar Simpang yang cuman seribu rupiah, pisang Pontianak yang gurih, … dan banyak hal lainnya. Indonesia itu benernya kaya, cuman dijajah bangsanya sendiri.
Ayo-ayo, kita merdekakan Indonesia dari diri kita sendiri! Indonesia Raya, merdeka, merdeka! Jadi buka-buka you tube dan download lagu Indonesia Raya nih…